Senin, 16 Mei 2011

Kewirausahaan


Sejarah Kewirausahaan
Sejarah kewirausahaan dapat dibagi dalam beberapa periode:
1. Periode awal
Sejarah kewirausahaan dimulai dari periode awal yang dimotori oleh Marcopolo. Dalam masanya, terdapat dua pihak yakni pihak pasif dan pihak aktif. Pihak pasif bertindak sebagai pemilik modal dan mereka mengambil keuntungan yang sangat banyak terhadap pihak aktif. Sedangkan pihak aktif adalah pihak yang menggunakan modal tersebut untuk berdagang antara lain dengan mengelilingi lautan. Mereka menghadapi banyak resiko baik fisik maupun sosial akan tetapi keuntungan yang diperoleh sebesar 25%.

2. Abad pertengahan
Kewirausahaan berkembang di periode pertengahan, pada masa ini wirausahawan dilekatkan pada aktor dan seorang yang mengatur proyek besar. Mereka tidak lagi berhadapan dengan resiko namun mereka menggunakan sumber daya yang diberikan, yang biasanya yang diberikan oleh pemerintah. Tipe wirausahawan yang menonjol antara lain orang yang bekerja dalam bidang arsitektural.
3. Abad 17
Di abad 17, seorang ekonom, Richard Cantillon, menegaskan bahwa seorang wirausahawan adalah seorang pengambil resiko, dengan melihat perilaku mereka yakni membeli pada harga yang tetap namun menjual dengan harga yang tidak pasti. Ketidakpastian inilah yang disebut dengan menghadapi resiko.
4. Abad 18
Berlanjut di abad ke 18, seorang wirausahawan tidak dilekatkan pada pemilik modal, tetapi dilekatkan pada orang-orang yang membutuhkan modal. Wirausahawan akan membutuhkan dana untuk memajukan dan mewujudkan inovasinya. Pada masa itu dibedakan antara pemilik modal dan wirausahawan sebagai seorang penemu.
5. Abad 19
Sedangkan di abad ke 19 dan 20, wirausahawan didefinisikan sebagai seseorang yang mengorganisasikan dan mengatur perusahaan untuk meningkatkan pertambahan nilai personal.
6. Abad 10
Pada abad 20, inovasi melekat erat pada wirausahawan di masa sekarang.

Menjadi PNS


Menjadi PNS Itu Panggilan
(Tanggapan terhadap Pandangan
tentang Apa Keistimewaan Menjadi PNS ?)
Oleh
Ricky Ekaputra Foeh

Sungguh sangat menguggah opini saudara Senny yang termuat dalam harian umum Timex edisi Jumat 15 Januari 2010 tentang apa keistimewaan menjadi Pegawai Negeri Sipil ? begitu banyak alasan yang saudara kemukakan diantaranya saya simpulkan sebagai berikut:
a. PNS itu Kerjanya santai, sibuk baca Koran, ngopi, main catur dan tidak serius seperti pada swasta. Saya tidak tahu dan tidak mengerti atas dasar apa saudara berkesimpulan demikian, sebab sepanjang pengetahuan, saya tidak pernah mendapati ada oknum PNS yang melakukan tindakan seperti itu atau mungkin saja ketika anda berkunjung sudah siang hari atau barangkali sudah tidak ada pekerjaan lagi, jadi wajar saja kalau mereka didapati sedang bersantai (mudah mudahan bukan karena oknum tersebut tidak memahami tugas pokok dan fungsinya). PNS sebagai aparatur negera digaji untuk melakukan pelayanan publik kepada masyarakat. Argumen saudara yang menyatakan bahwa untuk mengurus KTP dibutuhkan waktu sampai 1 bulan, sungguh diluar dugaan, sebab sewaktu penulis mengurus KTP pada kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil tidak pernah lebih dari 2 hari, semuanya dikerjakan secara professional, dan mudah mudahan dapat terus dipertahankan kinerja yang demikian.
b. Menjadi PNS dijamin tidak stress, saya kira tidak demikian adanya mengingat banyak sekali beban kerja yang ada di pundak setiap aparatur Negara, dimana dituntut agar dapat memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat, bangsa dan Negara.


c. Sulit dipecat, siap bilang PNS tidak dapat dipecat, dengan adanya UU baru tentang kedisiplinan mengatur bahwa jika seorang PNS alpa lebih dari 43 hari maka dapat diberhentikan dengan hormat, hal ini menunjukkan tingkat kedisiplinan yang tinggi sangat dituntut dari setiap aparatur birokrasi.
d. Gaji dan pangkat selalu naik, tidak selamanya demikian karena ada juga PNS yang pangkat dan gaji naik, banyak PNS yang karena tidak berprestasi tidak mendapatkan kenaikan pangkat dan gaji.
e. Symbol status, sangat melekat pada diri seorang PNS jika yang bersangkutan tinggal di kampung, maka orang sekampung akan membanggakan yang bersangkutan, kalau ada acara yang bersangkutan tentunya akan diberi penghargaan lebih. Semua itu berpulang pada perilaku dalam kehidupan social kita setiap hari, jika kita berlaku dengan tidak etis maka akan mencerminkan pribadi kita.
Penutup
Kesimpulan yang bisa ditarik adalah bahwa kedepan menjadi seorang PNS msih merupakan sebuah tren dikalangan lulusan perguruan tinggi kita, pilhan menjadi wirausaha masih merupakan pergumulan tersendiri. Tetapi yang harus diingat bahwa menjadi seorang PNS adalah seorang pelayanan masyarakat. Untuk ke depan sudah saatnya dipikirkan peningkatan mutu PNS dan kesejatheraannya, mengingat akan tugas pokok dan tanggungjawabnya yang begitu besar.

Mutu Pendidikan


MUTU PENDIDIKAN KITA RENDAH
yang salah siapa….?
Oleh

Ricky Ekaputra Foeh.,MM

Pengantar
Tidak terasa dalam bulan ini Republik-ku akan berulangtahun yang ke 63. sebuah perjalanan panjang bangsa ini, menapaki hari hari yang penuh harapan. Membangun kejayaan bangsa yang makin lama makin redup seiring perubahan yang terjadi. Kita hidup dalam dunia yang penuh perubahan. Jika kita kita mampu mengelola perubahan itu menjadi sesuatu yang menguntungkan bagi kita maka dengan sendirinya kita akan tergilas didalam perubahan itu. Perubahan terjadi dimana mana, termasuk dalam dunia pendidikan kita. Dewasa ini Sumber Daya Manusia dituntut mampu berkompetisi dalam dalam dunia global. Membangun sumber daya manusia berkualitas tentu merupakan suatu tantangan tersendiri.
Akhir-akhir ini bangsa Indonesia diperhadapkan dengan sangat terpuruk nya mutu pendidikan, walaupun tidak dapat kita pungkiri dilain sisi terdapat beberapa anak bangsa berhasil mencetak prestasi yang membanggakan bagi kita semua. Tentunya kita tidak dapat berpuas diri dengan hanya mengandalkan beberapa orang saja dari sekian ratus juta jiwa anak bangsa yang hidup di republik ini dalam mencetak berbagai prestasi berkaliber dunia.
Di Nusa Tenggara Timur mutu pendidikan kita sangat rendah. Hal ini ditunjukkan dengan hasil ujian nasional yang sangat terpuruk dan merosot. Masing-masing orang mulai mencari kambing hitam. Berbagai kesalahan ditimpakan kepada Guru yang tidak cakap mengajar, Siswa yang kurang belajar, Orang tua yang tidak bisa mendidik, lembaga pendidikan yang tidak mampu mengelola sebuah konsep pendidikan yang bermutu, bahkan pemerintah yang dinilai kurang cermat dalam menyusun kurikulum.
Mencermati tulisan saudara M. Hamatara (Dosen Undana Kupang) Kamis tertanggal 7 AGUSTUS 2008 dibawah judul UNAS YANG KELABU Siapa Kambing Hitam? Membuat kita seakan perlu merefleksikan diri untuk mencari solusi dari permasalahan yang ada dan bukannya kecenderungan untuk saling mempersalahkan juga muncul ditengah tengah kita seperti pandangan para pengamat beberapa waktu lalu antara lain; Prof. Dr. August Benu, MS mengaku sangat kecewa atas hasil seleksi SPMB Undana hal ini menunjukkan bahwa fondasi pendidikan di NTT di tingkat bawah tidak bermutu. Lain lagi dengan pandangan saudara Lebe Laurensius (SMUN 2 Kupang) yang menambahkan, bahwa untuk mengejar mutu pendidikan, tidak hanya menjadi tanggung jawab guru di lembaga pendidikan, tetapi harus didukung kuat oleh orangtua di rumah serta komponen pendidikan lainnya. "Bermutu tidaknya pendidikan seorang siswa itu pertama terletak di tangan para orangtua, karena anak lebih banyak didampingi orangtua. Sedangkan guru dan komponen lainnya hanya beberapa saat saja. Pandangan lain yang mencuat adalah berasal pengamat pendidikan NTT Drs. John Manulangga, M.Ed berpendapat bahwa Pengelola lembaga pendidikan di NTT diharapkan jangan mendidik peserta didik hanya sekadar untuk mendapatkan Surat Tanda Tamat Belajar (STTB). Tetapi harus berupaya untuk meningkatkan mutu pendidikan, agar output yang dihasilkan mampu bersaing di tengah masyarakat.



Mutu Pendidikan
Kesadaran akan pentingnya mutu pendidikan sungguh merupakan tantangan yang tidak ringan. Jikalau kita baru berpikir bahwa kita harus berubah, sesungguhnya kita sudah terlambat untuk itu. Oleh karenanya permasalahan ini harus segera diatasi. Mutu pendidikan yang terpuruk di negeri ini harus kita tekan. Setiap lembaga pendidikan yang ada di republik ini memiliki tanggung jawab besar terhadap mutu pendidikan yang dimulai dari proses pendidikan itu sendiri dan berakhir pada hasil pendidikan yang dicapai.
Berbicara mengenai mutu pendidikan sebenarnya kita membicarakan tentang dua sisi yang sangat penting yaitu proses dan hasil. Mutu dalam "proses pendidikan" melibatkan berbagai input, seperti; bahan ajar (kognitif, afektif, atau psikomotorik), metodologi (bervariasi sesuai kemampuan guru) sarana prasarana lembaga pendidikan, dukungan administrasi, berbagai sumber daya dan upaya penciptaan suasana yang fair dan nyaman untuk belajar. Mutu dalam konteks "hasil pendidikan" mengacu pada prestasi yang dicapai oleh lembaga pendidikan pada setiap kurun waktu tertentu (apakah tiap akhir semester/cawu, akhir tahun, 3 tahun, bahkan 10 tahun). Prestasi yang dicapai atau hasil pendidikan (student achievement) dapat berupa hasil test kemampuan akademis (misalnya ulangan umum dan ujian nasional). Dapat pula berupa prestasi di bidang lain seperti cabang olah raga, seni atau keterampilan tambahan tertentu misalnya: komputer, beragam jenis teknik, jasa. Bahkan prestasi lembaga pendidikan dapat berupa kondisi yang tidak dapat dipegang (intangible) seperti suasana disiplin, keramahtamahan, keakraban, saling menghormati, kebersihan, toleransi, dsb. Antara proses dan hasil pendidikan yang bermutu saling berhubungan satu sama lainnya, akan tetapi agar proses pendidikan dapat bermutu dan tepat sasaran, maka mutu dalam artian hasil (ouput) harus dirumuskan lebih dahulu oleh Lembaga Pendidikan. Lembaga Pendidikan wajib menetapkan target yang jelas untuk dicapai setiap tahun atau kurun waktu tertentu. Berbagai input dan proses harus selalu mengacu pada mutu-hasil (output) yang ingin dicapai. Dengan kata lain tanggung jawab lembaga pendidikan dalam memperbaiki mutu pendidikan bukan hanya pada proses pendidikan saja, melainkan lebih dari pada itu adalah pada hasil yang dicapai.
Untuk mengetahui hasil/prestasi yang dicapai oleh lembaga pendidikan ' terutama yang menyangkut aspek kemampuan akademik atau "kognitif" dapat dilakukan benchmarking (menggunakan titik acuan standar, misalnya : NEM oleh PKG atau MGMP). Evaluasi terhadap seluruh hasil pendidikan pada tiap lembaga pendidikan baik yang berdasarkan titik acuan standar (benchmarking) maupun kegiatan ekstra-kurikuler dilakukan oleh individu lembaga pendidikan sebagai evaluasi diri dan dimanfaatkan untuk memperbaiki target mutu dan proses pendidikan tahun berikutnya.

Lembaga Pendidikan Unggulan
Lembaga pendidikan unggulan itu sesungguhnya dibangun secara bersama-sama oleh seluruh warga lembaga pendidikan, bukan hanya oleh pemegang otoritas pendidikan atau owner lembaga pendidikan saja melainkan melibatkan seluruh komponen didalamnnya. Berbagai komponen dalam lembaga pendidikan yang ikut bertanggung jawab dan terlibat dalam proses pendidikan antara lain kepala lembaga pendidikan, wakil kepala lembaga pendidikan, guru, konsultan ahli dan staf lainnya sehingga akan menciptakan iklim lembaga pendidikan yang mempu membentuk keunggulan lembaga pendidikan. Diperlukan adanya synergy dengan berbagai pihak antara lain lembaga pendidikan, masyarakat dan pemerintah dengan tanggung jawabnya masing - masing ini. Pengelola sebuah lembaga pendidikan harus mampu memahami konsep penting pendidikan yang diluncurkan oleh pemerintah sehingga mampu menjawab tuntutan publik akan pendidikan bermutu.
Didalam masyarakat yang komplek seperti sekarang dimana kita hidup dalam dunia yang penuh dengan perubahan yang telah membawa kepada perubahan tata nilai yang bervariasi dan harapan yang lebih besar terhadap pendidikan terjadi begitu cepat, maka diyakini bahwa kita perlu menyesuaikan diri dengan perubahan yang agar kita tidak tergilas didalamnya. Kondisi ini telah membawa kepada suatu kesadaran bahwa lembaga pendidikan harus dikelola secara profesional sehingga mampu merespon aspirasi masyarakat secara tepat dan cepat dalam hal mutu pendidikan. Institusi pendidikan memiliki peranan yang sangat penting dalam membangun sumber daya manusia dan menjawab harapan bangsa.
Konsep manajemen peningkatan mutu berbasis lembaga pendidikan ini membawa isu desentralisasi dalam manajemen (pengelolaan) pendidikan dimana birokrasi pusat hanya berperan sebagai penentu kebijakan makro, prioritas pembangunan, dan standar secara keseluruhan melalui sistem monitoring dan pengendalian mutu sedangkan tanggung jawab individu lembaga pendidikan dan masyarakat pendukungnya untuk merancang mutu yang diinginkan, melaksanakan, dan mengevaluasi hasilnya, dan secara terus menerus menyempurnakan dirinya sehingga berakhir kepada peningkatan mutu siswa (lulusan).
Di Nusa Tenggara Timur terdapat beberapa lembaga pendidikan unggulan salah satu diantaranya adalah SMA Kristen Mercusuar. Tentunya banyak pihak yang bertanya dan ingin mengetahui tentang keunggulan lembaga pendidikan yang berprestasi luar biasa tersebut; SMA Kristen Mercusuar yang memiliki AKREDITASI A (Terbaik) dari Dinas Pendidikan & Kebudayaan Propinsi Nusa Tenggara Timur. Lembaga Pendidikan ini berproses dengan mengacu dan menerapkan sepenuhnya kurikulum nasional serta menambah berbagai disiplin ilmu pengetahuan dan ketrampilan untuk memperluas wawasan peserta didik agar dapat berkompetisi secara global. Setiap peserta didik dibekali dengan penguasan IPTEK seperti: Manajemen informatika dan access internet yang terbuka sehingga dapat diakses kapan saja. Lembaga ini juga menerapkan Full Day School, pengawasan KBM yang ketat, pengawasan kemajuan belajar siswa oleh Pusat Informasi dan Pengendalian Mutu SMP-SMA Kristen Mercusuar secara teratur dan sistematis, & Penerapan Metode Pengajaran Moderen. SMA Kristen Mercusuar juga merupakan Sekolah Pertama dan Satu-satunya di NTT yang menerapkan Rombongan belajar per kelas 20 - 25 siswa dengan di dampingi oleh 2 (dua) orang guru dalam 1 kelas. Memasuki tahun ajaran 2008 / 2009 ini, SMP – SMA Kristen Mercusuar mulai meluncurkan program E – Learning, sebuah proses pembelajaran yang berbasis teknologi wifi-hotspot memampukan siswa mengakses bahan belajar secara baik. Kegiatan kegiatan lainnya yang tidak kalah pentingnya untuk meningkatkan kadar keimanan seluruh komponen dalam lingkup SMP - SMA KRISTEN MERCUSUAR menerapkan kegiatan kerohanian secara terpadu dalam lingkungan pendidikan berupa kegiatan ibadah bersama dan kegiatan pendalaman alkitab. Secara singkat semua upaya (proses) yang dilaksanakan secara terpadu tersebut sebagai upaya mempersiapkan dan memenuhi kebutuhan masa depan para peserta didik sehingga dapat bersaing dalam kompetisi global.

Strategi Peningkatan Mutu Pendidikan
Dalam rangka peningkatan mutu pendidikan pada setiap lembaga pendidikan di Indonesia umumnya dan di Nusa Tenggara Timur khususnya, maka diperlukan partisipasi aktif dan dinamis dari orang tua, siswa, guru dan staf lainnya termasuk institusi yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan lembaga pendidikan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan antara lain:
1. Lembaga Pendidikan perlu membentuk sebuah unit kerja yang bertugas melakukan penyusunan basis data dan profil lembaga pendidikan secara sistimatis yang menyangkut berbagai aspek akademis, administratif (siswa, guru, staf), dan keuangan. Hal ini memudahkan bagi guru dan kepala lembaga pendidikan sehingga mereka hanya fokus pada KBM sedangkan urusan administrasi menjadi tugas dan tanggungjawab daripada Unit Informasi dan Pengendalian Mutu. Masalahnya sekarang adalah kebanyakan diberbagai lembaga pendidikan telah ada staf administrasi namun dalam jumlah yang terbatas sehingga memaksa guru dan kepala lembaga pendidikan terpaksa turun tangan menangani masalah administrasi dan keuangan. Yang lebih parah lagi adalah para kepala sekolah terlihat sangat sibuk dengan urusan administrasi dan keuangan sehingga kurang melakukan supervisi terhadap guru. Unit kerja seperti Pusat Informasi dan pengendalian Mutu bertugas melakukan evaluasi internal (internal assesment) dalam sebuah lembaga pendidikan untuk menganalisa sumber daya lembaga pendidikan, kinerja personil lembaga pendidikan dalam kerangka mengembangkan dan mencapai target kurikulum. Semua proses ini harus dipantau secara teratur dan berkesinambungan sehingga akan terasa hasilnya. Informasi yang terangkum dengan sistematis tersebut selanjutnya diteruskan pihak lembaga pendidikan sehingga dapat memahami secara jelas pada posisi mana derajat kualitas pendidikan sebuah lembaga pendidikannya berada saat ini. Para konsultan menyajikan data secara terperinci sehingga para pengambil kebijakan dilingkungan lembaga pendidikan dapat mengambil keputusan penting yang menyangkut pembangunan konsep pendidikan dan arah rencana pendidikan kedepan yang akan dicapai.
2. Lembaga pendidikan perlu memperhatikan secara seksama proses pendidikan sebab ternyata strategi input-output yang diperkenalkan oleh teori education production function (Hanushek, 1979,1981) tidak berfungsi sepenuhnya di lembaga pendidikan. Sebuah lembaga pendidikan itu sifatnya dinamis dan berirama alias tidak statis oleh karenanya tidak bisa disamakan dengan institusi ekonomi dan industri. Selama ini pembangunan pendidikan kita hanya terfokus pada penyediaan faktor input pendidikan sedangkan faktor proses pendidikan kadang terabaikan. Input pendidikan merupakan hal yang mutlak harus ada tetapi tidak menjadi jaminan dapat secara otomatis meningkatkan mutu pendidikan. Lembaga pendidikan sebagai unit pelaksana pendidikan formal terdepan dengan berbagai keragaman potensi anak didik yang memerlukan layanan pendidikan yang beragam, kondisi lingkungan yang berbeda satu dengan lainnya, maka lembaga pendidikan harus dinamis dan kreatif dalam melaksanakan perannya untuk mengupayakan peningkatan kualitas/mutu pendidikan.
3. Kebanyakan guru-guru pada setiap lembaga pendidikan mulai dari SD sampai dengan perguruan tinggi hanya mengejar target untuk menyelesaikan muatan materi pembelajaran yang sangat padat itu dalam setahun. Upaya mengejar materi pelajaran ini memang sah-sah saja namun demikian kenyataan yang kita hadapi adalah kebanyakan peserta didik kesulitan dalam mengerjakan ujian akhir nasional, akibatnya prosentasi kelulusan rendah sehingga yang oleh banyak pengamat dikatakan sebagai rendahnya mutu pendidikan.
4. Setiap lembaga pendidikan harus memiliki otonomi dan kewenangan untuk mengevaluasi sejauhmana kemampuan yang dimiliki peserta didik. Kewenangan tegas untuk tidak membiarkan (let go) peserta didik yang tidak sanggup mengikuti pelajaran dikelas berikutnya perlu diterapkan sehingga siswa yang berada pada level berikutnya adalah benar-benar seorang peserta didik yang sanggup untuk mencerna pengetahuan dan mengakses informasi. Kegagalan sekolah selama ini adalah menaikkan peserta didik yang sebenarnya harus ‘tahan kelas’ ke kelas berikutnya. Ini adalah kekeliruan yang dibuat oleh lembaga pendidikan, padahal sebuah lembaga pendidikan memiliki otoritas untuk menahan peserta didik yang tidak mampu sehingga memberinya kesempatan belajar dan memperbaiki diri agar kedepan prestasinya dapat meningkat.

PENUTUP
Setiap lembaga pendidikan akan menjadi lembaga pendidikan unggulan apabila diberi wewenang untuk mengelola dirinya sendiri dan diberi tanggung jawab penuh. Selama lembaga pendidikan-lembaga pendidikan hanya dijadikan alat oleh birokrasi di atasnya maka lembaga pendidikan tidak akan pernah menjadi lembaga pendidikan unggulan.
Proses perbaikan dan peningkatan mutu pendidikan dI Nusa Tenggara Timur saat ini sangat mendesak dan perlu segera dilakukan dengan synergy harmonis yang muncul dengan tidak saling mempersalahkan dari lembaga pendidikan, orang tua, dan shareholder serta stakeholder yang ada demi kejayaan pendidikan di Nusa Tenggara Timur.


BIODATA PENULIS


DATA DIRI
Nama Lengkap :Ricky Ekaputra Foeh.,SPd.,MM
Alamat Rumah : Jalan Salak II/3 Kel. Oepura Kupang – NTT
Telepon / HP : 0852 5307 1111

PENDIDIKAN :
• Lulusan Bahasa Inggris dari Universitas Nusa Cendana Kupang, dengan Predikat ‘Sangat Memuaskan’, 2002
• Lulusan Program Pascasarjana Magister Manajemen Magister Manajemen (MM) Universitas Katolik Widya Mandira Kupang dengan Predikat ‘Sangat Terpuji’, 2005
PEKERJAAN :
• DOSEN FISIP UNDANA KUPANG

Orasi Ilmiah


AKADEMI KEUANGAN DAN PERBANKAN EFFATA KUPANG

REVITALISASI MINDSET PENCARI KERJA (JOB SEEKER)
MENJADI SEORANG PENCIPTA KERJA (ENTERPRENEUR)


Oleh

Ricky Ekaputra Foeh., S.Pd., M.M
Dosen/Konsultan/Peneliti




ORASI ILMIAH
DALAM RAPAT SENAT TERBUKA LUAR BIASA
AKADEMI KEUANGAN DAN PERBANKAN EFFATA KUPANG
2009
“Jika Anda tidak berusaha melakukan sesuatu melampaui apa yang sudah Anda kuasai, Anda tidak akan berkembang”.
Ronald E. Osborn


Yang terhormat:
- Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur (pejabat yang mewakili);
- Ketua Yayasan EFFATA Pusat Kupang;
- Direktur Akademi Keuangan dan Perbankan Effata Kupang;
- Ketua Kopertis VIII (pejabat yang mewakili);
- Para Pimpinan Dinas dan Jawatan Pemerintah Propinsi, Kabupaten dan Kota;
- Para tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, dan tokoh perempuan;
- Para Pejabat Sipil, TNI dan POLRI;
- Yang berbahagia para wisudawan, orang tua dan anggota keluarga lainnya;
Hadirin yang saya muliakan.
Puji syukur patut kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas rahmat dan karuniaNya, sehingga kita dapat menghadiri Sidang Terbuka Luar Biasa Senat Akademi Keuangan dan Perbankan Effata Kupang dengan acara Dies Natalis ke XIV dan Wisuda Diploma III Angkatan ke IX serta Penganugerahan Ijazah tahun akademik 2009/2010.

Hadirin yang saya muliakan,
Menghargai dan menghormati keberhasilan merupakan tradisi dunia akademis agar setiap lulusan memiliki kesan mendalam bahwa kinerja tertinggi yang dicapai akan dihargai sepatutnya.
Hari ini kita menyaksikan bersama sejumlah putra dan putri terbaik dari tanah ini merampungkan suatu perjuangan panjang dalam menempuh pendidikan di perguruan tinggi milik kita sendiri, Akademi Keuangan dan Perbankan Effata Kupang.
Peristiwa bahagia dan bermartabat ini tidak saja menjadi milik para wisudawan yang telah mencapai keberhasilan setelah menempuh perjalanan dalam studinya melainkan lebih daripada itu, peristiwa ini juga kita maknai sebagai kebahagiaan seluruh masyarakat Nusa Tenggara Timur, karena telah bertambahnya sejumlah aset kaum terpelajar dalam masyarakat kita.
Hari ini bertepatan dengan wisuda ahli madya angkatan ke IX ijinkan saya menyampaikan beberapa pandangan saya dalam orasi ilmiah yang diberi label “Revitalisasi Mindset Pencari Kerja (Job Seeker) menjadi Seorang Pencipta Kerja (Enterpreneur).

Makna Kewirausahaan
Fakta dan data yang ada menunjukan bahwa lulusan sarjana dan ahli saat ini lebih banyak menciptakan pengangguran dibandingkan menciptakan lapangan kerja. Akibat belum pulihnya iklim investasi, terbatas peluang kerja, dan meningkatnya angkatan kerja baru dari pendidikan diploma dan sarjana sebesar 1,5 juta jiwa hingga 2 juta jiwa per tahunnya. Dapat dibayangkan jumlah pengangguran terbuka saat ini bahkan meningkat menjadi 10,8 juta jiwa. Begitu banyaknya pengangguran membuat berbagai pihak berupaya untuk mencarikan solusi mengatasi masalah yang ada.
Pilihan berwirausaha adalah satu satunya jalan yang dipandang baik untuk menyelesaikan masalah pengangguran. Berwirausaha merupakan salah satu pilihan hidup yang bermartabat dari sekian banyak pilihan yang ada. Pertanyaan krusialnya adalah sudah siapkah saudara yang hari ini diwisuda menjadi seorang entrepreneur…? atau saudara memilih mencari pekerjaan yang harus penuh dengan ketekunan dan kesabaran menanti terbukanya lapangan kerja yang diharapkan. Ones again… life must go on! Sekali lagi saya katakan hidup mesti berlanjut!.
Menjadi seorang Sarjana dan Ahli tentunya telah membuka pintu bagi terciptanya peluang-peluang baru dan memanfaatkan modal yang telah diraih untuk menaklukkan hambatan-hambatan yang dihadapi dalam menuju kesuksesan hidup. Dengan kecakapan yang telah digenggam tentunya mendorong sarjana dan ahli meraih apa yang diinginkan, kiranya memiliki lebih banyak kesempatan untuk berkiprah dalam dunia usaha, meniti karir dalam usaha dan sehingga masa depan yang ditatap tidak sekedar angan angan namun adalah sebuah kenyataan yang dapat diraih. Ada hal yang patut diingat bahwa kesuksesan itu diukur bukan berdasarkan atas posisi yang diraih saat ini, tetapi dengan hambatan yang telah dilewati saat mencoba untuk lebih berhasil lagi.
Sebaris judul orasi ilmiah diatas mengajak semua pihak untuk mulai berpikir untuk berwirausaha sebagai jawaban atas kesulitan mencari kerja yang tengah digeluti saat ini. Berwirausaha adalah sebuah fenomena dahsyat yang tengah dan akan selamanya menjadi perhatian utama masyarakat.
Keputusan seseorang untuk terjun dan memilih profesi sebagai seorang wirausaha didorong oleh beberapa kondisi. Kondisi-kondisi yang mendorong tersebut adalah : (1) orang tersebut lahir dan atau dibesarkan dalam keluarga yang memiliki tradisi yang kuat di bidang usaha (Confidence Modalities), (2) orang tersebut berada dalam kondisi yang menekan, sehingga tidak ada pilihan lain bagi dirinya selain menjadi wirausaha (Tension Modalities), dan (3) seseorang yang memang mempersiapkan diri untuk menjadi enterpreneur (Emotion Modalities).
Berwirausaha artinya menciptakan dan membangun suatu visi dari sesuatu yang tidak ada menjadi ada dan bermakna bagi manusia melalui tindakan kreatif. Entrepreneur cenderung menggunakan energinya untuk melakukan dan membangun suatu kegiatan. Seorang Entrepreneur yang know-how artinya tahu bagaimana menemukan sesuatu, merangkai, dan mengendalikan sumber-sumber (yang kadang-kadang dimiliki oleh orang lain) untuk mewujudkan tujuannya.
Penelitian yang dilakukan oleh McClelland (1961) di Amerika Serikat menunjukkan bahwa 50% pengusaha yang menjadi sample penelitiannya (diambil secara acak) berasal dari keluarga pengusaha. Penelitian yang dilakukan oleh Sulasmi (1989) terhadap 22 orang pengusaha wanita di Bandung juga menunjukkan bahwa sekitar 55% pengusaha tersebut memiliki keluarga pengusaha (orang tua, suami, atau saudara pengusaha). Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Mu’minah (2001) atas 8 orang pengusaha paling sukses di Pangandaran menunjukkan bahwa semua pengusaha tersebut memulai usahanya karena keterpaksaan, tersudut ataupun karena ketimpangan ekonomi yang dideritanya.
Sementara itu Pada kategori yang ketiga (Emotion Modalities), dalam pandangan Muhandri (2002), merupakan pengusaha yang umumnya memiliki tingkat pendidikan yang tinggi. Orang yang masuk dalam kategori ini memang mempersiapkan diri untuk menjadi seorang wirausaha, dengan banyak mempelajari keilmuwan (akademik) yang berkaitan dengan dunia usaha. Dalam kategori ini terdapat pengusaha yang langsung memulai usahanya (merasa cukup dengan dasar-dasar keilmuwan yang dimiliki) dan ada yang bekerja terlebih dahulu untuk memahami dunia usaha secara riil.
Sebagaimana yang dikutip dari hasil penelitian Ernest & Young sebuah perusahaan konsultan internasional dalam penelitiannya pada tahun 1998 tentang visi entrepreneuralism terhadap 500 pengusaha terkemuka di Amerika diperoleh temuan yang menarik yaitu bahwa:
• Entrepreneuralism akan menjadi “defining trend of the business” pada abad 21.
• Akan semakin banyak orang yang memasuki kegiatan kewirausahaan.
• Entrepreneuralism akan meningkat di seantero penjuru dunia, termasuk di negara-negara yang tidak masuk sebagai negara industri seperti di Afrika dan Timur Tengah.
• Peluang kewirausahaan yang menjanjikan pada abad ini adalah sektor teknologi / internet, kedokteran, food service / hospitality, layanan informasi / manajemen informasi.
• Lingkungan ekonomi entrepreneurial ditandai oleh “penekanan yang lebih besar pada “personal fulfillment”, “inovasi yang meningkat”, dan “creative work arrangement”.
10 mitos yang membelenggu pikiran para pemula yang akan memasuki dunia kewirausahaan
Keengganan lulusan perguruan tinggi memilih menjadi entrepreneur salah satunya karena terjebak dalam mitos. Beberapa lulusan perguruan tinggi hanya dibekali dengan kemampuan kognisi, tetapi tidak dibangkitkan daya afeksinya sehingga tidak terbangun orientasi sikap yang menjurus ke opportunity oriented. Lulusan pendidikan tinggi lebih banyak ingin bekerja pada perusahaan organisasi pemerintahan ketimbang membangun usaha sendiri atau berwirausaha. Inilah tantangan ke depan yang harus dihadapi. Para lulusan perguruan tinggi sampai saat ini masih gamang memasuki dunia kewirausahaan karena adanya mitos yang seolah tidak terbantahkan.
Sedikitnya ada 10 mitos yang membelenggu pikiran para pemula yang akan memasuki dunia kewirausahaan.
Mitos 1: Entrepreneur adalah pelaku, bukan pemikir Dalam batas-batas tertentu entrepreneur memiliki kecenderungan berorientasi kepada tindakan, tetapi sebenarnya mereka juga pemikir. Mereka adalah orang yang berfikir sistematis yang merencanakan langkahnya dengan hati-hati. Entrepreneur pemikir dengan entrepreneur pelaksana adalah sama-sama melaksanakan kegiatan entrepreneurship. Seorang entrepreneur tentunya sepanjang hidupnya akan terus berpikir tentang bagaimana tindakan yang harus diambil untuk mengembangkan usahanya
Mitos 2: Entrepreneur itu dilahirkan, bukan diciptakan Muncul anggapan bahwa tabiat dan sifat entrepreneur tidak dapat diajarkan atau dipelajari, mereka memiliki bakat pembawaan lahir. Bakat tersebut diantaranya adalah mencakup ke-agresif-an, inisiatif, dorongan, kemauan untuk mengambil risiko, kemampuan analitik, dan kemampuan human relation. Sekarang diakui bahwa entrepreneurship adalah suatu disiplin ilmu yang dapat membantu untuk mematahkan mitos. Seperti halnya ilmu-ilmu lain entrepreneurship mempunyai model, proses, dan studi kasus yang memungkinkan untuk mengkaji suatu topik dan menguraikan karakteristik obyek yang dikajinya.
Mitos 3: Entrepreneur selalu merupakan penemu (Inventors) Pemikiran yang menganggap entrepreneur adalah penemu merupakan akibat dari kurang dipahaminya visi tersembunyi dari seorang entrepreneur. Memang dalam keadaan tertentu penemu juga sekaligus menjadi entrepreneur. Di sini ada sejumlah entrepreneur yang melakukan berbagai jenis kegiatan inovatif tetapi bukan penemu. Contoh Ray Kroc, tidak menemukan franchise fast-food, tapi ide inovatifnya menjadikan McDonald merupakan perusahaan fast-food terbesar di dunia. Pemahaman terbaru tentang entrepreneurship cakupannya bukan sekedar pada invention. Tapi mencakup pemahaman yang lengkap dari perilaku inovatif apapun bentuknya sehingga usahanya dapat mengurita diseluruh dunia.
Mitos 4: Entrepreneur adalah orang yang canggung baik di dunia akademis atau di masyarakat. Ada kepercayaan bahwa entrepreneur secara akademis dan sosial merupakan orang yang gagal. Mereka berhasil menjalankan usahanya karena drop out dari sekolah atau dipecat dari tempat kerja. Ini kemudian digunakan untuk memahami profil entrepreneur tipikal. Secara historis sebenarnya pendidikan dan organisasi sosial tidak mengakui entrepreneur. Entrepreneur disingkirkan dari dunia perusahaan raksasa karena dianggap orang yang canggung. Dalam pendidikan bisnis, untuk contoh tujuan utamanya adalah memahami aktivitas perusahaan bukan pada siapa yang berada di balik perusahaan. Sekarang entrepreneur dipandang sebagai hero – baik secara sosial, ekonomi, dan akademik. Dia bukan lagi si canggung, entrepreneur sekarang dipandang sebagai profesional.
Mitos 5: Entrepreneur harus sesuai dengan profil Banyak buku dan artikel menyajikan cheklist ciri-ciri entrepreneur sukses. Daftar tersebut baik yang divalidasi atau tidak didasarkan pada studi kasus dan temuan riset atas orang-orang yang berorientasi pada pencapaian. Sekarang sangat susah untuk melakukan kompilasi hingga terwujud standar profil entrepreneurial.
Mitos 6: Untuk menjadi entrepreneur anda perlu memiliki uang Memang benar bahwa semua usaha membutuhkan modal untuk bisa berjalan; juga benar bahwa banyak bisnis jatuh karena tidak didukung keuangan yang memadai. Sekarang uang bukan satu-satunya benteng untuk menghadapi kegagalan bisnis. Kegagalan bisnis yang berkaitan dengan tidak adanya dukungan finansial yang memadai sering menjadi indikator adanya problem lain dalam usaha tersebut seperti: ketidakmampuan manajemen, lemahnya pemahaman terhadap persoalan keuangan; investasi yang buruk; perencanaan yang jelek dan sejenisnya. Banyak entrepreneur sukses berhasil mengatasi persoalan kekurangan uang dalam menjalankan usahanya, uang adalah sumber daya atau sarana yang digunakan untuk menjalankan usaha tapi tidak pernah menjadi tujuan akhir dari usaha itu sendiri. Bahkan ada enterpreneur yang sanggup memulai usaha dengan kemungkinan berhasil 98%
Mitos 7: Anda perlu nasib baik untuk menjadi entrepreneur Berada pada “tempat yang benar dan waktu yang tepat” selalu menjadi suatu keunggulan. Tapi yang lebih tepat adalah “keberuntungan muncul ketika kemampuan dan persiapan bertemu dengan kesempatan”. Entrepreneur adalah orang melakukan serangkaian persiapan agar berhasil menggapai kesempatan. Ketika kesempatan itu muncul dan dapat diraih sering dianggap sebagai suatu keberuntungan. Mereka sebenarnya adalah orang-orang yang selalu melakukan persiapan untuk menghadapi berbagai situasi dan mengubahnya menjadi sukses. Apa yang nampak sebagai suatu keberuntungan sebenarnya adalah buah dari melakukan perencanaan, menetapkan tujuan dan keinginan, mengakumulasi pengetahuan, dan melakukan inovasi. Intinya seorang entrepreneur adalah yang terus menerus waspada dan belajar untuk merespon lingkungan agar sesuai dengan keinginannya sendiri vis a vis keinginan masyarakat.
Mitos 8: Entrepreneur mengabaikan kesenangan Mitos mengatakan perencanaan dan evaluasi yang rumit cenderung menimbulkan masalah yang permanen, analisis yang berlebihan menyebabkan paralysis, tapi dalam pasar yang kompetitif seperti sekarang ini dibutuhkan perencanaan dan persiapan yang cermat. Mengidentifikasikan kekuatan dan kelemahan suatu usaha, menetapkan dengan jelas suatu jadwal untuk menghadapi perubahan membantu menangani masalah, dan meminimalisasikan masalah dapat dilakukan melalui perumusan strategi yang hati-hati – itu semua merupakan faktor kunci keberhasilan entrepreneurship. Dengan demikian perencanaan yang cermat – bukan mengabaikan perencanaan – adalah ciri dari entrepreneur yang sempurna. Motto utama yang harus diingat oleh seorang enterpreneur sejati adalah Hope for the Best, Plan for the Worst
Mitos 9: Entrepreneur mencari sukses tapi pengalaman menunjukkan tingginya tingkat kegagalan. Adalah benar bahwa banyak entrepreneur menghadapi sejumlah kegagalan sebelum mereka berhasil. Mereka mengikuti kata bijak “Jika pertama anda belum berhasil, coba, coba lagi”. Sebenarnya kegagalan dapat memberikan banyak pelajaran, siapa yang mau belajar dari kegagalan sering mendapatkan sukses. Ini nampak jelas terlihat dalam prinsip koridor, yang menyatakan bahwa setiap langkah memiliki risiko, tapi sekaligus memunculkan peluang yang tidak diduga sebelumnya. Perusahaan 3M menemukan “Pos-it” kertas kecil yang dilapisi lem dengan tidak sengaja karena memanfaatkan lem yang tidak memenuhi kualifikasi produk. Dari pada dibuang sayang lebih baik dibuat post-it, akhirnya produk ini menghasilkan jutaan dolar dan dikenal di seluruh dunia. Sekarang catatan statistik tentang kegagalan entrepreneur itu menyesatkan. Suatu riset yang dilakukan oleh Bruce A. Kirchoff, melaporkan bahwa dari pelacakan 814.000 usaha yang mulai start pada 1977 menemukan bahwa 50% tetap hidup dan dikelola oleh pemilik awal atau pemilik baru. 28% ditutup secara suka rela, dan hanya 18% yang benar-benar gagal.
Mitos 10: Entrepreneur adalah Pengambil resiko yang ekstrim Dalam masyarakat berkembang pandangan bahwa entrepreneur adalah orang yang suka berjudi dengan kemungkinan yang belum jelas, faktanya entrepreneur umumnya selalu memperhitungkan risiko. Semua entrepreneur yang berhasil adalah adalah mereka yang bekerja keras melalui persiapan dan perencanaan ketat untuk meminimalisasikan risiko untuk dapat mengendalikan lebih baik agar visinya tercapai.

Bagaimana Mendobrak mitos...?
Calon entrepreneur harus mempersiapkan diri melalui pendidikan dengan baik. Pendidikan merupakan fondasi yang sangat penting bagi entrepreneur, karena melalui pendidikan dapat lebih Berperan penting dalam membantu entrepreneur menghadapi masalah yang harus diselesaikannya. Sejarah memang telah mencatat ada sejumlah entrepreneur berasal dari siswa drop out seperti William Durant, Henry Ford, Andrew Carnegie, Thomas Alva Edison dan William Lear. Secara formal pendidikan mereka tidak begitu bagus, tetapi mereka melakukan proses pembelajaran sendiri, mereka menyerap explicit knowledge melalui learning by doing sehingga mereka berhasil menyusun skema berpikir untuk dijadikan panduan menghadapi persoalan.
Saya yang berorasi di sini akan menggunakan pandangan Joseph A. Schumpeter, ekonom asal Austria yang kemudian menetap di Amerika (1883 – 1950) tentang entrepreneur yang berpadangan bahwa perilaku dan sifat entrepreneur yang khas adalah kemampuannya, kecerdasannya dan keberaniannya yang ditopang oleh ketetapan hatinya dan keteguhan jiwanya untuk melancarkan usaha yang serba baru dengan melihat pada kemungkinan-kemungkinan potensial di masa depan dan berhasil menjelmakan menjadi kenyataan efektif.
Satu hal dari pandangan Schumpeter yang menggugah adalah penilaiannya tentang entrepreneur yang sama sekali berbeda dengan pengusaha (businessman). Entrepreneur memiliki “sikap jeli” terhadap kemungkinan potensial yang terbayang dalam perkembangan masa depan, kemudian mampu merintis dan mengatur inovasi, menempuh pola baru dalam penggunaan sumber dana dan daya produksi dalam suatu kombinasi optimal yang baru pula (neue Kombination).

Penutup
Teladan yang dapat kita petik hari ini adalah kewirausahaan dipandang sebagai fungsi yang mencakup eksploitasi peluang-peluang yang muncul di pasar. Eksploitasi tersebut sebagian besar berhubungan dengan pengarahan dan atau kombinasi input yang produktif. Seorang enterpreneur selalu diharuskan menghadapi resiko atau peluang yang muncul, serta sering dikaitkan dengan tindakan yang kreatif dan innovatif. Selain itu, seorang enterpreneur menjalankan peranan manajerial dalam kegiatannya, tetapi manajemen rutin pada operasi yang sedang berjalan tidak digolongkan sebagai kewirausahaan. Seorang individu mungkin menunjukkan fungsi kewirausahaan ketika membentuk sebuah organisasi, tetapi selanjutnya menjalankan fungsi manajerial tanpa menjalankan fungsi kewirausahaannya
Untuk ke depan sudah saatnya dipikirkan oleh kalangan dunia usaha untuk lebih meningkatkan kerjasama dengan masyarakat perguruan tinggi dalam kerangka untuk meningkatkan daya saing dan menyebarkan tradisi entrepreneurship di kalangan pendidikan tinggi.
Penciptaan wirausaha baru yang tangguh dapat dilakukan pada tataran penciptaan iklim yang mampu menanamkan budaya wirausaha, dan pada tataran operasional dengan (salah satunya) pola Inkubasi Bisnis. Penciptaan wirausaha tangguh dari wirausaha yang sudah ada harus didahului dengan diagnosis untuk mengetahui permasalahan sebenarnya yang dihadapi oleh wirausaha tersebut
Hal yang lebih penting diingat adalah saudara saudara wisudawan yang hari ini diwisuda hendaknya saudara senantiasa belajar dan menyimak secara baik akan setiap fenomena yang ada agar saudara tidak tertawan oleh muslihat dunia.
Akhirnya, teriring salam dan doa yang tulus dan ikhlas, perkenankan saya menyampaikan ucapan terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada mereka yang telah berbuat banyak dan memberikan makna hidup bagi saya dan saudara sekalian. Sekian dan terima kasih.





DAFTAR BACAAN

Ernest & Young sebuah perusahaan konsultan internasional dalam penelitiannya pada tahun 1998 tentang visi entrepreneuralism terhadap 500 pengusaha terkemuka di Amerika
http://westaction.org/definitions/def_entrepreneurship_1.html yang diakses pada tanggal 13 Januari 2006
Haeruman, H. 2000. Peningkatan Daya Saing Industri Kecil untuk Mendukung Program PEL. Makalah Seminar Peningkatan Daya Saing, Graha Sucofindo. Jakarta.
Hubeis, M. 1997. Manajemen Industri Kecil Profesional di Era Globalisasi Melalui Pemberdayaan Manajemen Industri. Orasi Ilmiah. Institut Pertanian Bogor.
Lubis, S.B.Hari. 1986. Manajemen Usaha Kecil. Diktat Kuliah : Program Magister Teknik dan Manajemen Industri. Institut Teknologi Bandung.
Muhandri, T. 2002. Kewirausahaan, Pengenalan Manajemen Usaha Kecil. Belum diterbitkan.
Pardede, F.R. 2000. Analisis Kebijakan Pengembangan Industri Kecil di Indonesia. Tesis Magister Program Studi Teknik dan Manajemen Industri. Institut Teknologi Bandung.
Sulasmi. 1989. Karakteristik 22 Pengusaha Wanita di Bandung. Tesis Magister Program Studi Teknik dan Manajemen Industri. Institut Teknologi Bandung.
Tjahja Muhandri, 2002, Strategi Penciptaan Wirausaha (Pengusaha) Kecil Menengah yang Tangguh, Makalah Falsafah Sains (pps 702), Program Pasca Sarjana / s3, Institut Pertanian Bogor





Daftar Riwayat Hidup

Nama : Ricky Ekaputra Foeh, SPd., MM
Alamat : Jalan Salak II/3 Oepura
Kupang – NTT - 85117
Telp/HP: 0852 5307 1111
Email :rickyfoeh@gmail.com

RIWAYAT PENDIDIKAN
2002 SP.d, Pendidikan Bahasa Inggris dengan Predikat Sangat Memuaskan, Universitas Nusa Cendana-English Department, Kupang – NTT - Indonesia.
2005 Magister Manajemen (MM) Konsentrasi Manajemen SDM dengan predikat Magna Cum Laude, Program Pascasarjana Magister Manajemen, Universitas Katolik Widya Mandira Kupang – NTT – Indonesia.

PEKERJAAN
1. Dosen Tetap Jurusan Administrasi Niaga, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Nusa Cendana Kupang
2. Dosen Jurusan Keuangan dan Perbankan Sekolah Tinggi Keuangan dan Perbankan Effata Kupang, NTT (D3 dan S1).
3. Konsultan Manajemen PT. Radio Suara Kupang 96 FM
4. Konsultan ahli Lembaga Manajemen Zigma Institut
5. Peneliti Masalah Manajemen dan Penulis Tetap pada berbagai situs/blog Internet

Kamis, 03 Maret 2011

KONSULTAN MANAJEMEN

PENAWARAN KERJASAMA
No: 016.U/K/REF/XII/2011
RICKY EKAPUTRA FOEH.,MM & REKAN
(Akademisi Universitas Nusa Cendana)
Alamat: Jalan Salak 2 No 3 Oepura Kupang NTT 85117
Phone: 081 236 694 888 - 081 237 955 588
-------------------------------------------------------------------------------------
Memberikan Pelayanan: Konsultasi – Pelatihan – Penelitian – Perancangan:

v Perencanaan SDM pada Organisasi Pemerintahan
v Terobosan Pelayanan Terpadu Untuk Meningkatkan Investasi
v Penanganan Pengaduan Masyarakat
v Pengembangan Ekonomi dan Usaha Daerah
v Teknik Penyusunan Memorandum of Understanding (MoU)
v Penyusunan Studi Pemekaran Desa/Kel/Kec/Kota/Kabupaten
v Penyusunan Rencana Induk Pengembangan Industri
v Penataan Kelembagaan Pemerintah Daerah
v Penyusunan Standar Kompetensi Jabatan Struktural
v Analisis Jabatan dan Beban Kerja
v Penyusunan Standar Pelayanan Minimal
v Teknik Penyusunan LAKIP
v Teknik Penyusunan Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPDA)
v Teknik Penyusunan Rencana Induk Pengembangan Obyek Wisata (RIPOW)
v Community Development bagi Masyarakat di sekitar Obyek Wisata
v Optimalisasi Tugas dan Fungsi Sekretariat Daerah
v Manajemen Bencana Berbasis Komunitas
v Perencanaan SDM pada Organisasi Publik
v Manajemen Perkantoran
v Penyusunan Studi Kelayakan
v Pembuatan Rencana Strategis Daerah
v Jasa Workshop, Seminar-Pelatihan-In House Training-Penyuluhan-Sosialisasi PERDA
v Jasa Trainning Pegawai Negeri Sipil / CPNS
v Pembuatan Profil Kabupaten/Kota & Profil Investasi Kabupaten/Kota
v Penelitian, Pengkajian dan Analisis Sosial & Pemerintahan
v Pengukuran Indeks Kepuasan Masyarakat Kabupaten/Kota
vPembuatan Website & Penyebaran Iklan Produk Daerah Melalui Internet

Nilai Bahasa Inggris Mahasiswa FISIP UNDANA


DAFTAR NILAI 2012
 MATA KULIAH : BAHASA INGGRIS
(3 SKS)
KELOMPOK BELAJAR : Ilmu Ekonomi Pembangunan - FISIP UNC








No NAMA MAHASISWA TUGAS UTS UAS GRADE NILAI KETERANGAN
1 Flora Maleilegi 90 70
2 Selli Tupa 80 64
3 Maria Tahuk 80 64
4 Yuni Bangngu 88 66
5 Maria Nalu 80 65
6 Marlince Tangu 80 64
7 Jamil Hore 80 62
8 Ecryn kami 80 64
9 Umbu Jaga 80 62
10 Agnes Arista 90 70
11 Desri Baok 90 70
12 Domminggus Yagi 89 66
13 Debora Liumau 87 65
14 Petherzon Dethan 80 61
15 Patriyufan Soinbala 80 64
16 Elimelek Samapati 80 63
17 Emanuel Gia 95 73
18 Yolinda Lanamay 88 67
19 Mariana Langngi 95 78
20 Charles Iri 80 63
21 Meli Manafe 88 64
22 Ervina Loin 80 60
23 Telvi Dimu 80 63
24 Putri Pertiwi 88 65








































 MATA KULIAH : BAHASA INGGRIS
(3 SKS)
KELOMPOK BELAJAR : Ilmu Adm Bisnis - FISIP UNC








No NAMA MAHASISWA TUGAS UTS UAS GRADE NILAI KETERANGAN
1 Angga Patola 95 72
2 M Haikal Djawas 80 60
3 Rahmat A. Hasan Bey 80 62
4 Rexy Thio Nub Uf 80 63
5 Hadi Husain 97 80
6 Domis Y Hanggawali 80 60
7 Agustinus Darni Kedu 80 62
8 Devi Ambar Ayu 80 63
9 Uce Novita Sodak 80 62
10 Selviana Alen 80 62
11 Riska Bessie 80 64
12 Noni Nope 90 68
13 Domianus Gegha 80 63
14 Selma Elisama 80 63
15 Ronald Manafe 80 62
16 Julio Latole 80 64
17 Olivia lake 95 70
18 Dewinta Haga 80 0
19 Ida Lestari 90 66
20 Frensy  Ndun 83 65
21 Oland Tabun 0 0
22 Claudio Malelak 90 66
23 Arthasyan Laufra 83 65
24 Kiki Nafiri 92 67









































 MATA KULIAH : BAHASA INGGRIS
(3 SKS)
KELOMPOK BELAJAR : Ilmu Adm Bisnis - FISIP UNC








No NAMA MAHASISWA TUGAS UTS UAS GRADE NILAI KETERANGAN
25 Christian Rambo 80 66
26 Reynold Ludji Pau 90 71
27 Risky Manafe 80 66
28 Yulius Wahyudi 80 65
29 Josep Ardian Seran 80 65
30 Yesriky R Mbuik 83 67
31 Marselina Kami 80 66
32 Wanda Giri 82 66
33 Sosi Arkiang 82 66
34 Dewinta Haga 82 67
35 Arianto Umbu Lungu 84 67
36 Yuliana C Mboeik 84 67
37 Yohana Raga 80 65
38 Yemima Anin 82 67
39 Selvidiana Samon 80 66
40 Alwan 95 70
41 Edgar Ndoen 90 68
42 Wahyu Lero 80 67
43 Hilarius Nurak 90 68
44 Adriano Bria 80 64
45 Ronyanto Haba Lena 80 64










Kupang,……………………….









Dosen Pengasuh Mata Kuliah
BAHASA INGGRIS
















(Ricky Ekaputra Foeh, S.Pd., M.M